Kapita Selekta #3 : IT Forensic & Cybercrime

Pemanfaatan teknologi informasi yang makin luas berpotensi meningkatkan tindak kejahatan baru. Terbukti banyak kasus kejahatan yang disebabkan penggunaan teknologi informasi. Ini berarti teknologi informasi yang maju dengan pesat telah menjadi sarana bagi pelaku kejahatan dalam melancarkan aksinya. Korbannya bisa ebih banyak, tidak memandang batasan usia dan status sosial. Modus kejahatan tersebut dikenal dengan istilah cybercrime. Dalam hal ini, IT Forensic memainkan perannya.

Untuk meningkatkan pengetahuan tersebut kepada mahasiswa Teknik Informatika UAI, topik mata kuliah Kapita Selekta yang ketiga adalah IT Forensic & Cybercrime. Perkuliahan diadakan pada tanggal 11 April 2016 lalu. Pembicara topik ketiga ini adalah AKBP Muhammad Nuh Al-Azhar, MSc., CHFI., CEI., ECIH. yang memang sudah ahli di bidang tersebut.

Security akan kuat dan bagus kalau memenuhi satu kata, yaitu update. Bukan hanya dari software dan hardware saja, tapi update di sisi SDM. SDM itu penting. Seperti halnya Smart phone on smart people. Kalau penggunanya tidak smart, ya sisi smart di handphonennya juga tidak tampak,” ujar beliau.

AKBP Azhar mengatakan pelaku kejahatan cyber adalah orang-orang yang smart. Artinya kalau jadi digital forensic, kita harus lebih smart dan punya passion yang lebih tinggi. Untuk menjadi digital forensic bisa dimulai dari programmer, gamer.

Salah satu pekerjaan digital forensic atau IT professional adalah analisis data. Ketua Asosiasi Forensik Digital Indonesia itu memperlihatkan data kepada mahasiswa untuk dianalisa dan diberi komentar. Data-data tersebut di antaranya global digital statistics (mengenai global digital snapshot, active users by social platform, mobile connections) dan digital statistics of Indonesia (mengenai digital in indonesia, top active social platforms) yang diambil dari WeAreSocial per Januari 2016.

Data-data tersebut menunjukkan kita ada di era digital.  Era digital masuk hampir ke semua lini. Efek negatif dari era digital adalah kejahatan cyber, cyber attack. AKBP Azhar menunjukkan topologi cyber attack, yaitu outsider dan insider.

Cyber attack yang paling sering dilakukan outsider di antaranya mobile hacking (smartphone disalahgunakan untuk kegiatan hacking), hijacking (membajak komputer dari jarak jauh), DdoS (mencoba mengirimkan banyak paket sampah dengan maksud target tidak bisa diakses), malware, sniffing (menyadap jaringan), phising (email palsu), dan social engineering (mengeksploitasi sisi humanis manusia).

Bukan hanya dari outsider, cyber attack juga bisa dilakukan orang dalam atau bisa disebut insider. Jenis cyber attack yang paling sering dilakukan adalah espionage, unauthorized access, document breach, inappropriate usage, dan email tapping.

Cybercrime goes mobile. Ya, saat ini smartphone bisa digunakan untuk kejahatan cyber atau menjadi target kejahatan cyber. Mengapa bisa jadi target kejahatan? AKBP Azhar menyebutkan tiga hal, yaitu pertama karena smartphone jarang tidak hidup 24 jam (rata-rata selalu aktif), hampir semua selalu terkoneksi internet, dan jarang ada yang install antivirus di smartphonenya. Ketiga hal itu menjadi peluang bagi pelaku kejahatan cyber dan membuat laptop sudah tidak terlalu menarik lagi.

Serangan kejahatan cyber semakin marak, membuat peran IT Forensic semakin penting. Oleh sebab itu pendidikan mengenai IT Forensic pun menjadi penting. AKBP Muhammad Nuh Al-Azhar memberi banyak pengetahuan kepada mahasiswa Teknik Informatika UAI mengenai cyber attack, digital forensic, applikasinya, prinsip-prinsipnya, sampai mengenalkan mahasiswa pada Asosiasi Forensik Digital Indonesia.

Tak hanya ilmu yang bermanfaat saja yang disampaikan, beliau memiliki banyak sekali prestasi yang sangat membanggakan dan hal tersebut menjadi motivasi bagi mahasiswa.

“Kalau bisa menjadi yang terbaik, kenapa jadi yang biasa-biasa saja? Meledaklah!” ujarnya.

Print Friendly
FacebookTwitterGoogle+Bagikan
<\/body>